Buku ini, What the Dog Saw karya Malcolm Gladwell, menurut saya sangat menarik dan saya beli di sela-sela waktu persiapan Speedy Game Championship yang diadakan di PVJ-Bandung sekitar 2 minggu yang lalu.
Oh ya, buku ini menarik karena menurut saya, buku ini ditulis oleh seorang penulis yang telah menghasilkan rentetan buku-buku terlaris sebelumnya dalam jangka waktu yang tidak begitu jauh. Artinya, dari sini memberikan gambaran, buku terakhir ini juga tidak kalah menariknya untuk disimak.
Bercerita tentang buku ini, ternyata agak berbeda dengan 3 buku karya Malcolm sebelumnya. Di 3 buku sebelumnya itu, Malcolm memulai sesuatu latar belakang, masalah, dan pada akhirnya memberikan literatur-literatur dan penelitian untuk sampai pada suatu fokus summary. Namun, dalam buku ini, Malcolm memberikan untaian-untaian cerita yang seolah berdiri terpisah-pisah, namun setelah ditelusur secara menyeluruh, Malcolm bercerita tentang tema generalisasi. Btw, sebagian untaian itu sepemahaman saya merupakan pendetailan atau setidaknya bersentuhan dengan sebagian bab di 3 buku sebelumnya.
Yah, generalisasi, adalah sebuah cara atau pola pandang terhadap suatu hal yang sepertinya terlihat normal dan normatif, namun dalam kasus-kasus yang spesial dengan dampak resiko tinggi, cara atau pola pandang tersebut harus dibedakan untuk mengetahui detail permasalahannya.
Bagaimana sebetulnya kasus kecelakaan pesawat John F Kennedy, sebagai contoh, apakah JFK sedang tercekat atau panik? Perbedaan tercekat dan panik adalah sangat penting, ketika panik adalah gambaran kesempitan karena keterbatasan sumber pengetahuan, sebaliknya tercekat adalah proses kesempitan memilih dari banyaknya sumber pengetahuan.
Bagaimana McKinsey dan beberapa konsultan lainnya melakukan generalisasi yang tidak tepat pada perusahaan berkasus besar, seperti Enron? Enron yang merupakan perusahaan ’star team’ mengabaikan budaya perusahaan untuk mencapai perusahaan yang berdaya juang dan solid. Enron lebih memilih untuk mendukung semua ide para anggota tim supernya dan membuang jauh kesolidan tim.
Satu lagi, bagaimana seseorang yang terlihat cakap dalam kesan pertama, sehingga dalam kasus Myer dapat mengelabui Steve Jobs, adalah kesan pertama yang ditangkap oleh sebagian orang sehingga berpendapat, kesan pertama sangat berpengaruh dalam keputusan bahwa calon penerima pekerjaan benar-benar memahami dan ahli dalam bidang pekerjaan nantinya. Padahal kesan pertama dalam penerimaan karyawan baru adalah maksimal 3 jam saja. Di bagian ini, seperti ada pengulangan dari buku Blink, kesan pertama itu ternyata cukup disimpulkan dalam maksimal 15 detik di pertemuan awal.
Profiling dari kepribadian, sebuah pertanyaan yang bisa jadi jebakan besar dan berpeluang beresiko tinggi bila profiling atas kepribadian seseorang ditangkap utuh tanpa filtering. Pada kasus kriminalitas dan dugaan pelakunya, bisa jadi profiling oleh tim intelijen senior akan sangat membantu, namun demikian ternyata profiling kadang berisi hal-hal yang paradoks, sehingga ada sebagian yang salah dan sebagian yang benar. Mengambil profiling sebagai absolut benar adalah sangat beresiko tinggi, karena para pelaku kriminalitas itu tentunya berjuang pula untuk menghindari kemudahan profiling.
Para perintis, sebagian kecil orang yang sukses, setelah sukses biasanya dibilang sebagai genius, padahal mereka berjuang dengan beraneka ragam perjuangan dalam konsisten menuju sukses. Bagi mereka berlaku pemeo, dunia bagi cacing lobak adalah setara ruang lobak itu.
Si genius muda dan si terlambat panas, keduanya pada suatu masa akan dihitung sebagai tokoh sukses di bidangnya, namun si terlambat panas biasanya karena bekerja tanpa rencana di awal yang baik, sehingga sebagian besar di antaranya melakukan pengulangan-pengulangan yang tidak perlu, sehingga mengalami keterlambatan bahkan sampai 30 tahun! Berbeda dengan si genius muda yang bergerak dengan rencana matang di awal dan langsung berproses sesuai rencana, yang hmmm bagi sebagian orang masih absurd.
Detail lainnya, monggo dibaca bareng-bareng.
Nuwun.