Wordpress Themes
RSS

Ini adalah ringkasan bagian ketiga dari buku Marketing in Crisis karya pak Rhenald Khasali yang menjelaskan bahwa dalam kondisi krisis yang tiba-tiba, semua orang sulit membaca krisis. Masing-masing orang mengolah data dan menganalisisnya yang mana kebanyakan hanya mengumpulkan data dari sejauh pengetahuan dan pengalaman yang dimilikinya, dan bagi yang belum pernah terguncang krisis akan mengalami keterkejutan yang luar biasa.

Dalam kondisi tersebut, diperlukan manusia yang memiliki penglihatan sakti, yaitu anggota tim yang memiliki pengetahuan dan pengalaman hidup berlimpah dalam melihat dan menangani krisis serta didukung dengan keberadaan kebajikan, wisdom, dalam penerapan penanganan masalah. Selanjutnya dalam penerapan penanganan masalah perlu diperhatikan kelompok anggota tim dan ‘pengalokasian peran’ untuk mendukung kekompakan dalam mencapai tujuan, yang mana pengelompokkan anggota tim tersebut dapat melihat perilaku manusia berdasarkan brain-color.

Selamat membaca.

Wisdom of Raiden

Wisdom of Raiden

sumber gambar: http://a.rampal.free.fr/fanarts/raiden2.jpg

===========================

Semua Orang Sulit Membaca Krisis

Setiap orang memiliki pandangan yang berbeda dalam membaca krisis, bahkan tokoh-tokoh ekonomi dan politik memiliki pendapat dan hasil pembacaan yang berbeda, walaupun menggunakan data-data yang hampir mirip sama. Pada bagian ini seolah menuangkan permasalahan yang terjadi bagi perusahaan dan entitas bisnis yang mengalami kesulitan dalam memahami krisis yang sedang melanda.

a. Tengok Kiri-Kanan

Masalah terbesar manusia adalah bekerja dengan asumsi, dan asumsi adalah ibu dari kebingungan. Sehingga ketika masing-masing individu diminta menyampaikan sebuah kesimpulan, maka yang dilakukan adalah proses pengkristalan dari pengumpulan data di sekelilingnya untuk selanjutnya membuat kesimpulan, begitu juga dengan kesimpulan sebuah krisis.

b. Sejauh Mata Memandang

Manusia dibatasi dengan kemampuan dan pengetahuannya untuk memahami sebuah kasus, sehingga cara pandang satu orang dengan orang yang lain yang memiliki kemampuan jarak pandang yang berbeda tentang suatu kasus akan menghasilkan kesimpulan yang berbeda.

c. Pemula Selalu Terkejut

Manusia memiliki potensi keterkejutan pada waktu menghadapi masalah-masalah yang belum tidak biasa dan tidak terduga, sehingga manusia akan terus berkembang pengetahuannya dengan menyerap sebuah peristiwa menjadi suatu kebiasaan dan meningkatkan kadar kempuan praduga.

d. Mata Sakti

Pengalaman hidup dan keilmuan memberikan kemampuan manusia untuk mampu melihat masalah dengan tata nilai dan belief yang lebih baik, sehingga menjadi manusia yang memiliki cara pandang yang sakti, tak terkalahkan.

e. Kepribadian Menentukan Penglihatan

Kepribadian yang bersumber pada pengalaman hidup dan keilmuan memberikan kemampuan dalam melihat sesuatu masalah tidak hanya pada sejauh mata memandang secara fisik, namun lebih jauh di balik apa yang bisa dilihat oleh mata fisik kita.

f. Kebajikan

Meskipun pengetahuan baik pengalaman hidup ataupun keilmuan adalah penting, namun pengetahuan yang bersifat hidup karena dapat dipatahkan oleh pengetahuan yang muncul belakangan, harus ditempatkan pada kebajikan penerapannya. Sebuah kebajikan, wisdom, memberikan seseorang lebih sekedar pemimpin biasa, karena mampu memberikan visi, harapan, dan inspirasi.

g. Brain Color

Warna otak adalah sebuah term yang menyatakan keberbedaan pola pikir dan tipe manusia dalam menghadapi masalah dan krisis. Otak berwarna oranye berpikir bebas tanpa belenggu penuh inovasi, otak hijau berpikir kritis dan logis, otak biru merekatkan orang dan senang menolong walau sering kurang tajam, dan otak kuning biasa bekerja sistematis dan kurang mampu berpikir paradok serta konservatif.

Di luar Awan Nan Gelap Ada Matahari

Pada bagian ini dijelaskan mengenai penggunaan kata Awan dan Kegelapan dengan mengambil tulisan-tulisan yang bisa mudah ditemui serta sesuai dengan analisis lingkungan yang terkini. Pak Rhenald memberikan gambaran dua mashab, kelompok pemikiran, tentang krisis dan menguraikannya secara faktual nan menarik.

a. Mashab Awan-Gelap
Mashab awan gelap percaya dunia itu datar dan matahari punya waktu kerja dan waktu istirahat yang sama, sewaktu matahari terbit maka seluruh dunia akan terang dan begitu sebaliknya bila matahari tidak bersinar maka seluruh dunia akan berada dalam kegelapan dan itu terkait dengan Mashab dunia itu datar. Mashab dunia itu datar pada saat ini dibawa oleh Thomas Friedman dalam bukunya ‘The World is Flat’, yang mana mashab itu ditandai setidaknya dengan 10 kejadian besar di dunia, yaitu:
i. Robohnya tembok Berlin yang mampu mendorong perobohan ekonomi sentralistik komunisme menjadi ekonomi pasar besar dan membebaskan semua warga dunia bebas ke manapun.
ii. Dunia terhubung oleh Web dan Netscape sehingga semua kalangan manusia bisa saling terhubung dan berhubungan dengan mudah menembus batas ruang dan waktu.
iii. Pekerjaan antar mesin terhubung memungkinkan terciptanya kolaborasi-kolaborasi ke dalam pendataran, seperti uploading, outsourcing, offshoring, supply chaining, insourcing, dan informing. Kolaborasi tersebut menciptakan bahasa yang disepakati dan dapat dimanfaatkan secara bersama-sama.
iv. Uploading memberikan kemungkinan lebih dalam dalam proses kolaborasi dan mutualisme, sehingga semua orang bebas berpartisipasi dan mengembangkan kolaborasi tersebut.
v. Outsourcing memberikan peluang efesiensi perusahaan dengan mengganti gaji sebagai fix-cost dengan biaya yang variabel melalui pembiayaan sesuai produktivitas.
vi. Offshoring memberikan metode rantai produksi sebuah produk dalam jumlah sangat besar pada suatu area dan bergerak secara masif.
vii. Modernisasi mata rantai pemasok memberikan keuntungan bagi perusahaan-perusahaan yang memiliki efisiensi, tepat waktu, dan memahami kebutuhan konsumennya.
viii. Kolaborasi horizontal untuk menciptakan nilai tambah (insourcing) pada setiap industri, masing-masing pihak mengambil posisi penting dan menutupi lubang pihak lainnya.
ix. Terciptanya Mesin Pencari dan Klarifikasi (informing) memungkinkan semua orang dapat melakukan track-record semua orang dalam waktu yang sangat singkat dan mudah.
x. Berkembang pesatnya teknologi supercanggih memberikan kemungkinan-kemungkinan percepatan perpindahan proses dan aktivitas.
Kedataran dunia menurut Teori Friedman tersebut yang berperan sangat besar dalam penyamaan jalannya matahari, sehingga gelap di satu sisi akan pasti menjadikan seluruh dunia dalam kegelapan.

b. Mashab Terang-Gelap
Mashab ini percaya bahwa seluruh kejadian di dunia ini terjadi secara berpasang-pasangan, ada sehat pasti ada sakit, dan ada gelap pasti ada terang. Keduanya berjalan bersamaan, ketika ada di suatu lokasi terjadi gelap, maka di suatu lokasi lainnya pasti terjadi terang. Ketika di suatu lokasi yang gelap, kemungkinan ada yang sehat dan ada yang sakit. Begitu juga sebaliknya, di suatu lokasi yang terang, kemungkinan ada yang sakit dan ada yang sehat. Walau kadang, dalam lokasi yang gelap, orang lebih suka memilih sakit untuk menjustifikasi kemalasannya.

c. Interaksi Terang-Gelap
Dunia ini mengalami perubahan yang fundamental dengan adanya hukum refleksivitas, yaitu bahwa dunia yang terkait satu dengan yang lain telah mengakibatkan hasil yang dicapai berubah dari menit ke menit dengan adanya kemungkinan pemahaman dan partisipasi informasi, sehingga menjadi manipulasi informasi yang terus dinamis.

d. Serba Paradoks
Dunia memasuki era baru yaitu era yang terkait satu dengan yang lain dan menyebabkan dunia ini mengalami penuh goncangan (turbulent era). Pendapat Charles Handy bahwa semakin bergejolak, semakin paradoks, kontradiktif, dan inkonsitenlah segala kebenaran di dunia ini. Dalam kacamata marketing dan bisnis adalah ketika banyak perubahan negatif suatu bidang, maka di dalamnya menyimpan potensi keuntungan yang sangat besar dan begitu pula sebaliknya.

e. Relaksasi Constraint
Adalah sebuah cara pandang dan cara bersikap untuk menghadapi turbulent era dengan cara memberikan peluang bagi kreativitas dalam menghadapi setiap masalah, sehingga tidak terbelenggu pada batasan prosedural (procedural based) dan memberikan ruang kemungkinan yang sangat bebas pada hasil (result based). Hal ini akan memberikan dampak bagi pemegang kendali aktivitas untuk bebas berkreasi dan memberikan peluang untuk bermimpi mencapai hasil yang sangat besar, berbeda daripada hanya sekedar hasil yang bersifat prediktif.

f. Tuntutan Fleksibilitas
Fleksibilitas adalah kunci dari kreatifitas dan peluang bermimpi besar dibanding memberikan batasan-batasan yang kaku sehingga dapat menimbulkan kegagalan dalam pertempuran dan persaingan, benih konflik, dan benih kerugian di dalam turbulent era ini. Namun Fleksibilitas ini memiliki sejumlah karakteristik, yaitu keterbukaan, menyajikan alternatif pilihan, menghargai realitas di lapangan, dan fleksibilitas tetap terbatas, serta menuntut entrepreneurship.

g. Kemampuan Beradaptasi (Change)
Ketika perubahaan berlangsung sangat cepat, maka kunci untuk dapat mengalahkannya adalah kemampuan dalam melakukan adaptasi atau perubahan. Beberapa bidang yang harus diperhatikan dalam perubahan antara lain perubahan teknologi, perubahan produk dan jasa, perubahan struktur dan sistem, dan perubahan SDM.

Sudah hampir 3 bulan buku ini ngendon setelah katam membacanya, mangkrak, iseng buka-buka lagi dan mencoba iseng juga untuk membuat ringkasannya. Nah, ini adalah sedikit ringkasan yang coba saya bagikan secara per bab.

Kalau ada kritik dan diskusi seputar ini, sumonggo saja untuk menambah wawasan dan kasanah pemikiran kita, khususnya di bidang marketing, wa bil khusus lagi dalam suasana krisis sekarang ini.

#1 - Awan itu Terlalu Gelap
Awan yang gelap itu berada di Amerika Serikat, sebagian negara Eropa, dan negara-negara yang menggantungkan hidupnya pada kedua benua tersebut, krisis tersebut disebabkan adanya kerugian di sektor keuangan Amerika Serikat sebesar US$42,6 Triliun dengan sumbangan terbesar pada produk sintetis Credit Default Swap (CDS). Inilah term Awan Gelap yang dimaksud, namun lebih fokus lagi, di manakah awan gelap itu? Dan kekawatiran tersebut timbul manakal awan gelap itu dapat berarak pindah ke tempat lainnya.

Awan gelap di Amerika dengan salah satunya ditandainya penyelamatan industri otomatifnya seolah cepat berarak ke tempat lain, terbukti industri otomotif Jepang menyatakan pendapatannya akan menurun, industri properti di Cina mengalami pergolakan dengan ditandai adanya kerusuhan massal dan ramalan akan adanya kebangkrutan perusahaan pengekspor ke Amerika Serikat. Kegusaran dan ketakutan juga segera menyebar ke negara tetangga Indonesia berupa ketakutan riil ataupun ketakutan perseptual yang belum tentu benar adanya serta seolah memberikan pernyataan besar ke pemerintah untuk melakukan perubahan dan bertindak agar selamat.

======
Ini adalah model bab pembukaan dari tulisan pak Rhenald yang menurut saya bukan hanya sekedar pakar management namun lebih mendorong kepada motivator management. Beliau memberikan dorongan kepada individu - tim - organisasi - korporasi untuk selalu memiliki motivasi, belief, confidence dan trust antar semua komponen pendukung tujuan yang telah ditargetkan.

Model-model bab pembukaan seperti ini ada di beberapa buku pak Rhenald, memberikan gambaran yang penuh realitas dan tidak dibombastiskan sehingga mengajak kita mengetahui secara benar-benar kondisi lapangan sebagai masukan bagi tiap komponen di atas.

Seminggu ini saya membaca buku pak Rhenald Kasali, “Marketing In Crisis”, isinya sangat dahsyat untuk menggugah semangat dan motivasi kita di tengah-tengah kondisi lingkungan sekitar (baca: ekonomi) yang begitu meresahkan. Persaingan bisnis di segala sektor, termasuk industri telcos yang sepertinya sudah ‘hampir selesai masa pertempuran hebatnya’ dan akan diikuti dengan parade ‘akuisisi dan penggilasan’ sebagai sunatullah (hukum alam) hasil persaingan.

Buku ini seolah menjawab beberapa pertanyaan mendasar saya tentang teori Friedman dengan “The World Is Flat”-nya. Beberapa point penting Friedman saya setuju, namun gabungan dari beberapa point tersebut membuat saya bingung dan sepertinya berakibat pada pendapat tidak setuju.

Salah satu ketidaksetujuan saya pada Friedman adalah seolah-olah menutup kemungkinan semangat tumbuh bagi industri-industri non skala giant, karena seolah-olah pula semuanya sudah dikuasai secara menyeluruh oleh industri skala giant dikarenakan ke-flat-an, tanpa batas, dan ke-horisontal-an dunia tersebut. Nyatanya perangsekan industri giant itu sebetulnya tidak terlalu besar, walaupun kita berpotensi terus terangsek (tertinggal), bila tidak memulai mengejarnya.

Industri Giant itu bisa berbentuk penguasaan industri ritel oleh grup Carrefour, mata rantai jaringan distribusi yang sangat efektif & hemat, sampai dengan industri telcos & informatika dalam bentuk internet-social-network. Nyatanya permainan di industri lokal jauh lebih berperan daripada permainan lokal-non lokal, bahkan Facebook & Friendster (dan ISN sejenisnya) berkembang membentuk koloni-koloni lokal, katakan dengan jujur teman kita di jaringan pertemanan itu lebih banyak teman lokal atau teman non lokal (bule or tinggal di luar Indonesia)?

Saya sempat membaca resensi buku pak Hermawan, “The World Is Still Round, Marketing Is Flat”, beberapa minggu yang lalu, namun saya baru memutuskan membeli setelah membaca buku pak Rhenald ini. Hal ini karena saya melihat esensi yang ditawarkan pak Hermawan masih belum menjawab secara penuh ketidaksetujuan saya terhadap teori Friedman.

Pak Rhenald menawarkan sebuah cara pandang yang sangat-sangat berbeda dan itu benar secara logika, saya sangat setuju. Bahwa dunia tidaklah secara nyata datar berada dalam satu waktu (baca: suasana lingkungan), namun dunia memeliki keseimbangan, ada siang ada malam, ada terang ada gelap.

Terang dan gelap adalah sebuah cara pandang menghadapi suatu permasalahan, kadang kebanyakan kita terjebak pada sesuatu yang memang benar nyata, namun karena sebagian besar kita lebih memilih untuk bersikap pesimis, maka rasa pesimis itu terus menyebar, dan akhirnya mengalahkan motivasi yang seharusnya terus terjaga.

Amerika dan Eropa dalam paradoksnya (sepertinya saya ketemu buku yang cocok untuk membuka kunci pemikiran Gus Dur tentang ini: lain kali ceritanya) boleh mengalami kegoncangan ekonomi yang bisa dibilang sebagai Awan Gelap. Namun, bisa jadi di belahan dunia lainnya ada Matahari di belakang Awan Gelap tersebut, Awan Terang, sebuah harapan!

Karena adanya hukum keseimbangan, maka Awan Gelap itu dapat juga mengalir pindah ke tempat lain dan tidak menutup kemungkinan akan ada di sekitar kita. Namun, senyampang Awan Kita Tidak Terlalu Gelap, jangan lantas memutuskan bahwa Awan Kita Memang Gelap, sebuah justifikasi bagi kemalasan kita. Saya setuju, dan point saya adalah kemalasan dalam bersyukur nikmat salah satunya.

Maka, sepertinya perumpamaan Awan tersebut menjawab atau searah dengan tulisan saya di blog ini “David Vs Google-at”. Selalu ada terobosan baru bagi kita bila mensyukuri nikmat dalam bentuk pemanfaatan akal dan kreativitas!

Percayalah!

Syair Negeriku

Feb 22
2009

Saya adalah salah satu pengagum tulisan Emha dan penikmat syair-syair musik Kyai Kanjengnya, sebuah grup yang mirip kasidah modern dengan kombinasi beragam alat, sehingga pendengarnya akan manggut-manggut dan terbelalak setelah memahami makna syairnya.

-cut-

Satu hal lagi, saya sering mendengungkan shalawat nabi ketika meninabobokkan putra saya, ketika masih berumur kurang dari tiga tahun, dan entah mengapa dengungan saya tadi membuatnya mudah tertidur dan tidak rewel. Saya coba cari mengapa, ternyata memang para guru dan ulama terdahulu menganjurkan hal itu.

Sekitar dua tahunan yang lalu, saya tertarik dengan pemaknaan lagu ilir-ilir, dan secara tidak sengaja saya dengar di sebuah radio dalam perjalanan saya ke kantor sebuah alunan musik yang mudah saya kenali. Yap, Emha sedang nembang ilir-ilir wladalah tapi kok disambung shalawatan, batin saya, bisa jadi ini modal saya untuk meninabobokkan calon jabang bayi saya, anak kedua.

Mau tahu syair dan pemaknaan lagu ilir-ilir oleh Emha yang menurutnya bersumber dari literatur kuno Sunan Kalijaga? Saya tidak terlalu peduli dengan sumbernya, karena seorang Emha bagi saya tidak perlu diragukan kebenarannya. Dan sepertinya itu sebuah rangkaian komplit dari pemaknaan saya terhadap tembang ilir-ilir yang sepotong-potong. Tumbu oleh tutup!

Syair tembang Ilir-Ilir:

Ilir-Ilir, lir-ilir, tanduri wus sumilir

tak ijo royo-royo, tak sengguh temanten anyar

bocah angon, bocah angon, penekno blimbing kuwi

lunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dodot ira.

Dodot ira, dodot ira, kumitir bedhah ing pinggir

dondomono, jlumatono kanggo seba mengko sore

mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane

ya, suraka surak hiya.

Pemaknaan Emha yang bersumber dari Sunan Kalijaga:

Wahai semuanya, bangunlah, bangunlah (nglilir), semuanya sudah berkembang dan harus dikembangkan. Mekar bersemi menghasilkan, namun ternyata belum mencapai kesejahteraan yang membahagiaan dan mensentosakan. Wahai penggembala umat, para pemimpin bangsa, ambilkan sari-sari nilai keTuhanan dan gunakan untuk memimpin, walau banyak aral melintang dan hambatan yang licin dan memelesetkan, dalam rangka membangkitkan lagi kehormatan (dodot=pakaian=kehormatan) bangsa.

Kehormatan bangsa kita telah sobek dan nampak di depan mata, wahai pemimpin perbaikilah untuk bergaul dalam kancah dunia, mumpung masih ada waktu dan kesempatan. Dan bersoraklah menyambut kemenangan, kembalinya kehormatan.

-cut-

Setelah anak saya yang kedua lahir, NIKA (Naila), saya mulai terapkan syair-syair itu sebagai kidung pengantar tidurnya. Sekarang dia sudah hampir dua tahun, setiap mau tidur, ketika saya ada, pasti tangan saya ditarik ke tempat tidur sembari berujar, ‘Yah, lil-ilil Yah…’. Saya paham maksudnya, seperti malam ini, dia ingin melingkar dalam pelukan saya sambil saya dengungkan tembang Emha tadi mengiringi tidurnya.

-cut-

Pemaknaan Emha tersebut sangat tepat dengan kondisi bangsa kita, bangsa Indonesia, yang memiliki kehormatan sangat rendah dalam pergaulan antar bangsa. Bahkan kita sering diremehkan tetangga negara kita, yang bisa jadi 30 tahun lalu, mereka banyak berguru dan bersekolah di negeri kita. Ada apa ini?

Syair yang berisi seruan untuk bangkit kembali mencapai kehormatan bangsa kembali harus didengungkan, tidak harus berlebihan, namun masing-masing kita membawa semangat kebersamaan untuk membalikkan kembali kehormatan bangsa.

Negeri kita adalah potongan surga, tanah luas nan subur hingga apapun yang ditanam tumbuh, lautan luas penuh ikan berdaya jual tinggi, orang-orang kita tidak kalah pintar, budaya kita bernilai cita rasa tinggi, masyarakat penuh penghormatan dan tepa slira (walau sekarang mulai terlihat banyak individualism-kelompok). Mengapa?

Ketika dahulu, kita banyak ketinggalan dengan penjajah-ekonomi dari segi pengalaman, kurangnya kekayaan intelektual, proses peralihan teknologi yang lama, seharusnya tidak untuk saat ini!

Kata orang, internet adalah mbah-nya dari segala mbah perpustakaan, yang dengannya proses pengembangan keilmuan dan dengannya peralihan teknologi pengkaya intelektual seharusnya tidak jauh tertinggal.

Kita perlu cah angon (baca: pemimpin) yang memiliki modal relijius yang kuat untuk membangkitkan kehormatan kita!

Bagaimana pendapat Anda?

Next Page »
Porn Videos website monitoring