David vs Google-at
(baca: David vs Goliat)
Benak saya selalu tergelitik dengan sebuah pertanyaan, “Bagaimana menciptakan daya saing sebuah portal lokal yang dapat membunuh The Great Giant International Portal?”.
Eit tunggu dulu, istilah The Great Giant International Portal adalah sebuah istilah rekaan saya saja, mengacu kepada kedigdayaan portal seperti Facebook (mewakili internet-social-network), Yahoo & Google (dari hitungan jari search engine terbesar di dunia). Keduanya adalah portal besar yang menurut saya, semua pengguna internet tahu.
Bagaimana kita, warga lokal, orang Indonesia mampu membunuh (baca=mengurangi kedigdayaan) mereka?
Sebentar, sebelum ke sana, saya akan coba break-down menjadi beberapa pertanyaan:
Kira-kira apa yang menjadi target para portal tersebut?
Kira-kira darimana target tersebut tercapai?
Kira-kira competitive-advantage apa yang dimiliki oleh mereka, sehingga menjadi nomor satu?
Sorry, sekali lagi ini hanya tulisan seorang Cak Usma saja, yang hmmm… bisa jadi salah besar dan hanya sebuah bualan saja.
Saya coba lakukan analisis singkat saja dari masing-masing portal tersebut terkait dengan target portal tersebut, jelas targetnya adalah uang, it’s a business!
Selanjutnya ternyata uang dari para portal tersebut diperoleh dari peluang keberadaan-komunitas yang mereka bangun (baca= mereka miliki). Peluang itu bisa berkembang menjadi advertising (dengan khas IPM & CPMnya), menjadi bagi-hasil penyebaran peluang IPM & CPM tersebut berupa ads-sence, ataupun peluang perhitungan saham yang terus meningkat dari keberadaan jumlah komunitas yang kebetulan tidak akan pernah berkurang (churn), serta tentunya masih banyak peluang pendapatan lainnya selain advertising, dari riset preference-user misalnya. Ternyata ini yang menjadikan para portal-portal tersebut memiliki tingkat kekayaan yang terus meningkat!
Dari keberadaan komunitas tersebut selanjutnya dibuatlah sesi yang menyebabkan anggota komunitas tersebut mempunyai attract untuk terus aktif dan giat selalu berkunjung ke portal-portal tersebut. Sehingga keberadaan attract tersebut akan meningkatkan (menjaga) peluang trafik IPM & CPM tersebut, maka timbulah term web 2.0 yang memungkinkan para user terus berkunjung dan terus memperkaya content portal-portal tersebut. Jadi sebetulnya yang tampak di atas kertas kita semua adalah bahwa domain yang dimainkan oleh para pemilik portal tersebut bukanlah domain orang IT, namun domain orang marketing yang memanfaatkan pengetahuan IT (baca: internet, neural programming, ultra-fast query, dsb)!
Mustahil perusahaan-perusahaan pemilik portal itu akan bangkrut bukan?
Saya terus berpikir.
Sepertinya cara membunuh mereka terselip di sub bagian buku John Naisbitt, sang futurolog. Beliau bilang, ke depan jamannya adalah PDB bukan Product Domestic Bruto, namun Product Domain Bruto! Keberadaan domain yang menanggalkan batasan negara bagi kepentingan sebuah institusi bisnis beralih kepada kelompok kategori bisnis. Jerman bukan lagi dipandang sebagai negara penggerak otomotif, namun sebaliknya domain industri otomotif yang digerakkan oleh swasta menghilangkan kata kejayaan sebuah negara Jerman.
Naisbitt melanjutkan, dalam perkembangan PDB seperti itu, setiap koloni komunitas (baca= negara) memerlukan icon ciri khusus untuk menandai kecirikhasan sebagai modal dan menjaga peluang kekayaan negara itu! This is the point!
Saya kembali buka teori-teori perang, apa yang terjadi ketika ciri-khas suatu koloni terjadi atau terbangun.
Yang timbul dari situ adalah adanya sebuah budaya lokal inti yang tidak dapat dipengaruhi (baca=sulit) diganti. Negeri China yang berabad-abad saling tempur, sampai dengan kekaisaran terakhir tidak dapat menghapus budaya-budaya lokal yang berkembang dari nenek moyangnya dulu, hingga faktor bahasa pun sampai dengan sekarang China tak mampu menyeragamkan dalam bentuk bahasa nasional, bahasa Inggrisnya pun banyak cengkokan yang susah dimengerti, sehingga brand-brand internasional seperti Coca-Cola susah masuk ke sana.
Terkait dengan brand produk, saya terpesona dengan ke-nomor-satu-an produk Teh Botol Sosro di tengah ancaman brand produk minuman dalam kemasan lainnya. Brand produk internasional manapun, termasuk Coca-Cola dan Pepsi-Cola, sudah bertahun-tahun tidak mampu menghabisi Teh Botol Sosro di pasar lokal Indonesia. Teh Botol Sosro adalah sebuah brand produk lokal di pasar Indonesia dengan cita rasa khas Indonesia yang menjadi pemenuh kebutuhan (need) ketimbang keinginan (want) pasar Indonesia.
Kembali ke tulisan di atas, bagaimana membunuh The Great Giant International Portal (TGGIP) itu?
Satu kunci utama, sebagai gabungan dari Naisbitt dan perilaku persaingan pasar internasional adalah: perhatikan ciri khas yang menjadi pemenuh kebutuhan (need) masyarakat lokal dengan memperhatikan trend masyarakat global!
Kalo di Indonesia, sebagai penantang, harus jeli-jeli mengetahui kira-kira kebutuhan masyarakat lokal terhadap tool internet itu apa, penuhi, dan ajak transparent-mask-community menjadi the-real-face-community!
Bayangkan, bila di Indonesia ada satu portal seperti itu, terus di Vietnam ada, terus di Polandia ada, setidaknya pasar TGGIP itu akan banyak berkurang. Dan, TGGIP itu perlu resource sangat besar untuk mengadakan proses peralihan ke the-real-face-community tadi, ini domain pelaku lokal (baca= domestik). Karena pada hakikatnya yang dilakukan TGGIP di domain marketing adalah pada fase awareness belum masuk ke fase sales-activation!
Untuk tahu saja, ada peluang di samping itu bahwa kue bisnis untuk marketing di fase sales-activation jauh lebih besar ketimbang fase awareness!
Para TGGIP itu persis skenario Coca-Cola yang men-deliver Fresh-Tea untuk menyaingi Teh Botol Sosro, mereka menyediakan alih-bahasa ke bahasa negara-negara yang sering mengakses mereka, termasuk Indonesia. Sayangnya di Indonesia belum ada portal ‘sebentuk’ Teh Botol Sosro dalam persaingan minuman dalam kemasan!
Kunci berikutnya, hitungan jumlah anggota komunitas dan pageview tidak mesti berbanding lurus!
Ingat, ketika fase yang diraih oleh para TGGIP itu adalah awareness, maka jumlah anggota komunitas sudah bukan hal pokok, berubah ke page-view sebagai hasil perkalian user-pengunjung dan banyaknya page-yang-dibuka-per-pengunjung!
Perhatikan perbedaan antara Google & Facebook, bisa jadi Google memiliki user-pengunjung yang sangat jauh melebihi Facebook, tapi Facebook memiliki tingkat page-yang-dibuka-per-pengunjung yang jauh lebih dominan ketimbang Google!
Artinya adalah pada saat ini, pengembangan sebuah portal baru untuk memberikan penantang kepada TGGIP bukanlah sebuah langkah yang terlambat, senyampang kita mampu memberikan pemenuhan kebutuhan (need) komunitas internet lokal, sehingga user terus tumbuh dan di sisi lain page-viewnya terjaga terus meningkat.
Kunci berikutnya lagi, jumlah user anggota komunitas suatu portal tidak akan pernah berkurang, karena meskipun seorang user tidak pernah login lagi ke suatu portal itu, dia tetap tercatat dalam data anggota komunitas. Klaim ini membuat sebuah portal terlihat selalu besar, namun dalam dunia bisnis portal yang mendambakan peningkatan hit trafik page-view (IPM & CPM), maka faktor ini bukanlah menjadi penentu utama. Perhatikan bagaimana Facebook dapat menyalip Friendster dan MySpace!
Seorang anggota Friendster bisa jadi dia juga anggota MySpace bisa jadi juga dia anggota Facebook, namun biasanya, ketika seseorang sudah terlanjur masuk aktif dalam salah satunya, maka dia secara perlahan akan meninggalkan yang lainnya. Persis seperti dimensi-gelembung-balon dalam bisnis telcos prabayar dalam pasar yang sudah stagnan! Penambahan sebuah pelanggan bagi operator lain, berarti pengurangan anggota pelanggan (churn) bagi operator lainnya.
Artinya, sekali lagi adalah bagaimana mensolusikan tantangan agar para user itu bergabung dalam suatu portal baru dan membuat mereka langgeng ke situ, fase the-real-face-community sangat-sangat membantu hal ini!
Satu lagi, bagi perusahaan-perusahaan pengelola atau pemilik TGGIP tersebut yang terdaftar dalam bursa saham, kunci pokoknya adalah rating trafik hit dan pageview mereka adalah penggerak naik-turunnya saham mereka! Sekali trafik hit dan pageview mereka turun dalam periode waktu tertentu, itu berarti bencana besar telah melanda perusahaan tersebut!
Lantas, mengapa kita tidak bisa (baca= berani)?