Wordpress Themes
RSS

Seminggu ini saya membaca buku pak Rhenald Kasali, “Marketing In Crisis”, isinya sangat dahsyat untuk menggugah semangat dan motivasi kita di tengah-tengah kondisi lingkungan sekitar (baca: ekonomi) yang begitu meresahkan. Persaingan bisnis di segala sektor, termasuk industri telcos yang sepertinya sudah ‘hampir selesai masa pertempuran hebatnya’ dan akan diikuti dengan parade ‘akuisisi dan penggilasan’ sebagai sunatullah (hukum alam) hasil persaingan.

Buku ini seolah menjawab beberapa pertanyaan mendasar saya tentang teori Friedman dengan “The World Is Flat”-nya. Beberapa point penting Friedman saya setuju, namun gabungan dari beberapa point tersebut membuat saya bingung dan sepertinya berakibat pada pendapat tidak setuju.

Salah satu ketidaksetujuan saya pada Friedman adalah seolah-olah menutup kemungkinan semangat tumbuh bagi industri-industri non skala giant, karena seolah-olah pula semuanya sudah dikuasai secara menyeluruh oleh industri skala giant dikarenakan ke-flat-an, tanpa batas, dan ke-horisontal-an dunia tersebut. Nyatanya perangsekan industri giant itu sebetulnya tidak terlalu besar, walaupun kita berpotensi terus terangsek (tertinggal), bila tidak memulai mengejarnya.

Industri Giant itu bisa berbentuk penguasaan industri ritel oleh grup Carrefour, mata rantai jaringan distribusi yang sangat efektif & hemat, sampai dengan industri telcos & informatika dalam bentuk internet-social-network. Nyatanya permainan di industri lokal jauh lebih berperan daripada permainan lokal-non lokal, bahkan Facebook & Friendster (dan ISN sejenisnya) berkembang membentuk koloni-koloni lokal, katakan dengan jujur teman kita di jaringan pertemanan itu lebih banyak teman lokal atau teman non lokal (bule or tinggal di luar Indonesia)?

Saya sempat membaca resensi buku pak Hermawan, “The World Is Still Round, Marketing Is Flat”, beberapa minggu yang lalu, namun saya baru memutuskan membeli setelah membaca buku pak Rhenald ini. Hal ini karena saya melihat esensi yang ditawarkan pak Hermawan masih belum menjawab secara penuh ketidaksetujuan saya terhadap teori Friedman.

Pak Rhenald menawarkan sebuah cara pandang yang sangat-sangat berbeda dan itu benar secara logika, saya sangat setuju. Bahwa dunia tidaklah secara nyata datar berada dalam satu waktu (baca: suasana lingkungan), namun dunia memeliki keseimbangan, ada siang ada malam, ada terang ada gelap.

Terang dan gelap adalah sebuah cara pandang menghadapi suatu permasalahan, kadang kebanyakan kita terjebak pada sesuatu yang memang benar nyata, namun karena sebagian besar kita lebih memilih untuk bersikap pesimis, maka rasa pesimis itu terus menyebar, dan akhirnya mengalahkan motivasi yang seharusnya terus terjaga.

Amerika dan Eropa dalam paradoksnya (sepertinya saya ketemu buku yang cocok untuk membuka kunci pemikiran Gus Dur tentang ini: lain kali ceritanya) boleh mengalami kegoncangan ekonomi yang bisa dibilang sebagai Awan Gelap. Namun, bisa jadi di belahan dunia lainnya ada Matahari di belakang Awan Gelap tersebut, Awan Terang, sebuah harapan!

Karena adanya hukum keseimbangan, maka Awan Gelap itu dapat juga mengalir pindah ke tempat lain dan tidak menutup kemungkinan akan ada di sekitar kita. Namun, senyampang Awan Kita Tidak Terlalu Gelap, jangan lantas memutuskan bahwa Awan Kita Memang Gelap, sebuah justifikasi bagi kemalasan kita. Saya setuju, dan point saya adalah kemalasan dalam bersyukur nikmat salah satunya.

Maka, sepertinya perumpamaan Awan tersebut menjawab atau searah dengan tulisan saya di blog ini “David Vs Google-at”. Selalu ada terobosan baru bagi kita bila mensyukuri nikmat dalam bentuk pemanfaatan akal dan kreativitas!

Percayalah!

Syair Negeriku

Feb 22
2009

Saya adalah salah satu pengagum tulisan Emha dan penikmat syair-syair musik Kyai Kanjengnya, sebuah grup yang mirip kasidah modern dengan kombinasi beragam alat, sehingga pendengarnya akan manggut-manggut dan terbelalak setelah memahami makna syairnya.

-cut-

Satu hal lagi, saya sering mendengungkan shalawat nabi ketika meninabobokkan putra saya, ketika masih berumur kurang dari tiga tahun, dan entah mengapa dengungan saya tadi membuatnya mudah tertidur dan tidak rewel. Saya coba cari mengapa, ternyata memang para guru dan ulama terdahulu menganjurkan hal itu.

Sekitar dua tahunan yang lalu, saya tertarik dengan pemaknaan lagu ilir-ilir, dan secara tidak sengaja saya dengar di sebuah radio dalam perjalanan saya ke kantor sebuah alunan musik yang mudah saya kenali. Yap, Emha sedang nembang ilir-ilir wladalah tapi kok disambung shalawatan, batin saya, bisa jadi ini modal saya untuk meninabobokkan calon jabang bayi saya, anak kedua.

Mau tahu syair dan pemaknaan lagu ilir-ilir oleh Emha yang menurutnya bersumber dari literatur kuno Sunan Kalijaga? Saya tidak terlalu peduli dengan sumbernya, karena seorang Emha bagi saya tidak perlu diragukan kebenarannya. Dan sepertinya itu sebuah rangkaian komplit dari pemaknaan saya terhadap tembang ilir-ilir yang sepotong-potong. Tumbu oleh tutup!

Syair tembang Ilir-Ilir:

Ilir-Ilir, lir-ilir, tanduri wus sumilir

tak ijo royo-royo, tak sengguh temanten anyar

bocah angon, bocah angon, penekno blimbing kuwi

lunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dodot ira.

Dodot ira, dodot ira, kumitir bedhah ing pinggir

dondomono, jlumatono kanggo seba mengko sore

mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane

ya, suraka surak hiya.

Pemaknaan Emha yang bersumber dari Sunan Kalijaga:

Wahai semuanya, bangunlah, bangunlah (nglilir), semuanya sudah berkembang dan harus dikembangkan. Mekar bersemi menghasilkan, namun ternyata belum mencapai kesejahteraan yang membahagiaan dan mensentosakan. Wahai penggembala umat, para pemimpin bangsa, ambilkan sari-sari nilai keTuhanan dan gunakan untuk memimpin, walau banyak aral melintang dan hambatan yang licin dan memelesetkan, dalam rangka membangkitkan lagi kehormatan (dodot=pakaian=kehormatan) bangsa.

Kehormatan bangsa kita telah sobek dan nampak di depan mata, wahai pemimpin perbaikilah untuk bergaul dalam kancah dunia, mumpung masih ada waktu dan kesempatan. Dan bersoraklah menyambut kemenangan, kembalinya kehormatan.

-cut-

Setelah anak saya yang kedua lahir, NIKA (Naila), saya mulai terapkan syair-syair itu sebagai kidung pengantar tidurnya. Sekarang dia sudah hampir dua tahun, setiap mau tidur, ketika saya ada, pasti tangan saya ditarik ke tempat tidur sembari berujar, ‘Yah, lil-ilil Yah…’. Saya paham maksudnya, seperti malam ini, dia ingin melingkar dalam pelukan saya sambil saya dengungkan tembang Emha tadi mengiringi tidurnya.

-cut-

Pemaknaan Emha tersebut sangat tepat dengan kondisi bangsa kita, bangsa Indonesia, yang memiliki kehormatan sangat rendah dalam pergaulan antar bangsa. Bahkan kita sering diremehkan tetangga negara kita, yang bisa jadi 30 tahun lalu, mereka banyak berguru dan bersekolah di negeri kita. Ada apa ini?

Syair yang berisi seruan untuk bangkit kembali mencapai kehormatan bangsa kembali harus didengungkan, tidak harus berlebihan, namun masing-masing kita membawa semangat kebersamaan untuk membalikkan kembali kehormatan bangsa.

Negeri kita adalah potongan surga, tanah luas nan subur hingga apapun yang ditanam tumbuh, lautan luas penuh ikan berdaya jual tinggi, orang-orang kita tidak kalah pintar, budaya kita bernilai cita rasa tinggi, masyarakat penuh penghormatan dan tepa slira (walau sekarang mulai terlihat banyak individualism-kelompok). Mengapa?

Ketika dahulu, kita banyak ketinggalan dengan penjajah-ekonomi dari segi pengalaman, kurangnya kekayaan intelektual, proses peralihan teknologi yang lama, seharusnya tidak untuk saat ini!

Kata orang, internet adalah mbah-nya dari segala mbah perpustakaan, yang dengannya proses pengembangan keilmuan dan dengannya peralihan teknologi pengkaya intelektual seharusnya tidak jauh tertinggal.

Kita perlu cah angon (baca: pemimpin) yang memiliki modal relijius yang kuat untuk membangkitkan kehormatan kita!

Bagaimana pendapat Anda?

Saya tertarik dengan sejarah Jawa, khususnya karena para pemimpin bangsa Indonesia ini sampai dengan saat ini, sebagian besar adalah dari Jawa. Simpel yah. Bisa jadi memang karena para pemilihnya di setiap pemilu sebagian besar adalah penduduk Jawa. Bisa jadi karena faktor lokasi pemerintahannya yang ada di Jawa, jadi setidaknya sorakan ‘Save The City’ akan terdengar (khas suporter pertandingan tuan rumah yang akan kalah).

Saya mengumpulkan beberapa buku, mulai dari Babad Tanah Jawi (dari beberapa pengarang buku), Kisah Raja-Raja Jawa, Strategi & Skenario Ken Arok, Sejarah-Fiksi Gajah Mada, dan terakhir ada buku karya Thomas Stamford Raffles: “The History of Java”. Buku ini sudah ada versi e-booknya yang disediakan oleh google, tapi karena keterbatasan bahasa Inggris saya untuk sebuah tulisan historis khas baheula itu, saya kesulitan mencerna dan memperoleh bukunya sekitar dua bulan yang lalu versi bahasa Indonesia.

Buku Raffles itu sangat-sangat lengkap dan detail, hingga di halaman-halaman awal mirip laporan BPS (Badan Pusat Statistik), namun di dalamnya memberi porsi yang lumayan besar untuk tulisan tentang kerajaan Jawa. Raffles mengklaim tulisan dia tersebut yang paling lengkap di zamannya.

Ketertarikan saya untuk membaca sejarah Jawa, salah satu alasannya adalah bahwa Jawalah penyebar DNA budaya ke daerah-daerah lain (baca: pulau lain), walaupun menurut saya tidak seluruh pulau terkooptasi budayanya oleh para imigran Jawa.

Satu lagi yang simpel dan lucu adalah: orang-orang tua saya di kampung atau mungkin di tempat Anda sering berujar, “Oh dasar wong [nama kota/ daerah], yo ngono iku!” artinya “Oh dasar orang [nama kota/ daerah], ya begitu itu!”. Begitu itu berarti menyatakan budaya yang terkait dengan nama kota/ daerah dan populer dikenal oleh masyarakat umum.

Ujaran itu selalu terngiang di telinga saya, karena nyatanya perubahaan DNA budaya itu tidak berjalan secara revolusioner, namun berjalan secara evolusioner yang sangat lambat.

Artinya, dengan membaca buku-buku sejarah yang mungkin paling lama 1,5 abad yang lalu, kita masih bisa membaca budaya seseorang berdasarkan kota/ daerah asalnya itu. Menurut saya, ngetahui budaya seseorang dalam perspektif penerusan berita ataupun penciptaan community-trust adalah sangat penting.

Yang menjadi pertanyaan: kota/daerah asal sewaktu kelahiran atau tumbuh dewasa seseorang?

Saya belum memperoleh jawaban tentang hal ini, tapi perkiraan saya adalah: kota dia tumbuh dewasa seseorang tersebut.

Bagaimana menurut Anda?

David vs Google-at

Feb 18
2009

David vs Google-at
(baca: David vs Goliat)

Benak saya selalu tergelitik dengan sebuah pertanyaan, “Bagaimana menciptakan daya saing sebuah portal lokal yang dapat membunuh The Great Giant International Portal?”.

Eit tunggu dulu, istilah The Great Giant International Portal adalah sebuah istilah rekaan saya saja, mengacu kepada kedigdayaan portal seperti Facebook (mewakili internet-social-network), Yahoo & Google (dari hitungan jari search engine terbesar di dunia). Keduanya adalah portal besar yang menurut saya, semua pengguna internet tahu.

Bagaimana kita, warga lokal, orang Indonesia mampu membunuh (baca=mengurangi kedigdayaan) mereka?

Sebentar, sebelum ke sana, saya akan coba break-down menjadi beberapa pertanyaan:

Kira-kira apa yang menjadi target para portal tersebut?

Kira-kira darimana target tersebut tercapai?

Kira-kira competitive-advantage apa yang dimiliki oleh mereka, sehingga menjadi nomor satu?

Sorry, sekali lagi ini hanya tulisan seorang Cak Usma saja, yang hmmm… bisa jadi salah besar dan hanya sebuah bualan saja.

Saya coba lakukan analisis singkat saja dari masing-masing portal tersebut terkait dengan target portal tersebut, jelas targetnya adalah uang, it’s a business!

Selanjutnya ternyata uang dari para portal tersebut diperoleh dari peluang keberadaan-komunitas yang mereka bangun (baca= mereka miliki). Peluang itu bisa berkembang menjadi advertising (dengan khas IPM & CPMnya), menjadi bagi-hasil penyebaran peluang IPM & CPM tersebut berupa ads-sence, ataupun peluang perhitungan saham yang terus meningkat dari keberadaan jumlah komunitas yang kebetulan tidak akan pernah berkurang (churn), serta tentunya masih banyak peluang pendapatan lainnya selain advertising, dari riset preference-user misalnya. Ternyata ini yang menjadikan para portal-portal tersebut memiliki tingkat kekayaan yang terus meningkat!

Dari keberadaan komunitas tersebut selanjutnya dibuatlah sesi yang menyebabkan anggota komunitas tersebut mempunyai attract untuk terus aktif dan giat selalu berkunjung ke portal-portal tersebut. Sehingga keberadaan attract tersebut akan meningkatkan (menjaga) peluang trafik IPM & CPM tersebut, maka timbulah term web 2.0 yang memungkinkan para user terus berkunjung dan terus memperkaya content portal-portal tersebut. Jadi sebetulnya yang tampak di atas kertas kita semua adalah bahwa domain yang dimainkan oleh para pemilik portal tersebut bukanlah domain orang IT, namun domain orang marketing yang memanfaatkan pengetahuan IT (baca: internet, neural programming, ultra-fast query, dsb)!

Mustahil perusahaan-perusahaan pemilik portal itu akan bangkrut bukan?

Saya terus berpikir.

Sepertinya cara membunuh mereka terselip di sub bagian buku John Naisbitt, sang futurolog. Beliau bilang, ke depan jamannya adalah PDB bukan Product Domestic Bruto, namun Product Domain Bruto! Keberadaan domain yang menanggalkan batasan negara bagi kepentingan sebuah institusi bisnis beralih kepada kelompok kategori bisnis. Jerman bukan lagi dipandang sebagai negara penggerak otomotif, namun sebaliknya domain industri otomotif yang digerakkan oleh swasta menghilangkan kata kejayaan sebuah negara Jerman.

Naisbitt melanjutkan, dalam perkembangan PDB seperti itu, setiap koloni komunitas (baca= negara) memerlukan icon ciri khusus untuk menandai kecirikhasan sebagai modal dan menjaga peluang kekayaan negara itu! This is the point!

Saya kembali buka teori-teori perang, apa yang terjadi ketika ciri-khas suatu koloni terjadi atau terbangun.

Yang timbul dari situ adalah adanya sebuah budaya lokal inti yang tidak dapat dipengaruhi (baca=sulit) diganti. Negeri China yang berabad-abad saling tempur, sampai dengan kekaisaran terakhir tidak dapat menghapus budaya-budaya lokal yang berkembang dari nenek moyangnya dulu, hingga faktor bahasa pun sampai dengan sekarang China tak mampu menyeragamkan dalam bentuk bahasa nasional, bahasa Inggrisnya pun banyak cengkokan yang susah dimengerti, sehingga brand-brand internasional seperti Coca-Cola susah masuk ke sana.

Terkait dengan brand produk, saya terpesona dengan ke-nomor-satu-an produk Teh Botol Sosro di tengah ancaman brand produk minuman dalam kemasan lainnya. Brand produk internasional manapun, termasuk Coca-Cola dan Pepsi-Cola, sudah bertahun-tahun tidak mampu menghabisi Teh Botol Sosro di pasar lokal Indonesia. Teh Botol Sosro adalah sebuah brand produk lokal di pasar Indonesia dengan cita rasa khas Indonesia yang menjadi pemenuh kebutuhan (need) ketimbang keinginan (want) pasar Indonesia.

Kembali ke tulisan di atas, bagaimana membunuh The Great Giant International Portal (TGGIP) itu?

Satu kunci utama, sebagai gabungan dari Naisbitt dan perilaku persaingan pasar internasional adalah: perhatikan ciri khas yang menjadi pemenuh kebutuhan (need) masyarakat lokal dengan memperhatikan trend masyarakat global!

Kalo di Indonesia, sebagai penantang, harus jeli-jeli mengetahui kira-kira kebutuhan masyarakat lokal terhadap tool internet itu apa, penuhi, dan ajak transparent-mask-community menjadi the-real-face-community!

Bayangkan, bila di Indonesia ada satu portal seperti itu, terus di Vietnam ada, terus di Polandia ada, setidaknya pasar TGGIP itu akan banyak berkurang. Dan, TGGIP itu perlu resource sangat besar untuk mengadakan proses peralihan ke the-real-face-community tadi, ini domain pelaku lokal (baca= domestik). Karena pada hakikatnya yang dilakukan TGGIP di domain marketing adalah pada fase awareness belum masuk ke fase sales-activation!

Untuk tahu saja, ada peluang di samping itu bahwa kue bisnis untuk marketing di fase sales-activation jauh lebih besar ketimbang fase awareness!

Para TGGIP itu persis skenario Coca-Cola yang men-deliver Fresh-Tea untuk menyaingi Teh Botol Sosro, mereka menyediakan alih-bahasa ke bahasa negara-negara yang sering mengakses mereka, termasuk Indonesia. Sayangnya di Indonesia belum ada portal ‘sebentuk’ Teh Botol Sosro dalam persaingan minuman dalam kemasan!

Kunci berikutnya, hitungan jumlah anggota komunitas dan pageview tidak mesti berbanding lurus!

Ingat, ketika fase yang diraih oleh para TGGIP itu adalah awareness, maka jumlah anggota komunitas sudah bukan hal pokok, berubah ke page-view sebagai hasil perkalian user-pengunjung dan banyaknya page-yang-dibuka-per-pengunjung!

Perhatikan perbedaan antara Google & Facebook, bisa jadi Google memiliki user-pengunjung yang sangat jauh melebihi Facebook, tapi Facebook memiliki tingkat page-yang-dibuka-per-pengunjung yang jauh lebih dominan ketimbang Google!

Artinya adalah pada saat ini, pengembangan sebuah portal baru untuk memberikan penantang kepada TGGIP bukanlah sebuah langkah yang terlambat, senyampang kita mampu memberikan pemenuhan kebutuhan (need) komunitas internet lokal, sehingga user terus tumbuh dan di sisi lain page-viewnya terjaga terus meningkat.

Kunci berikutnya lagi, jumlah user anggota komunitas suatu portal tidak akan pernah berkurang, karena meskipun seorang user tidak pernah login lagi ke suatu portal itu, dia tetap tercatat dalam data anggota komunitas. Klaim ini membuat sebuah portal terlihat selalu besar, namun dalam dunia bisnis portal yang mendambakan peningkatan hit trafik page-view (IPM & CPM), maka faktor ini bukanlah menjadi penentu utama. Perhatikan bagaimana Facebook dapat menyalip Friendster dan MySpace!

Seorang anggota Friendster bisa jadi dia juga anggota MySpace bisa jadi juga dia anggota Facebook, namun biasanya, ketika seseorang sudah terlanjur masuk aktif dalam salah satunya, maka dia secara perlahan akan meninggalkan yang lainnya. Persis seperti dimensi-gelembung-balon dalam bisnis telcos prabayar dalam pasar yang sudah stagnan! Penambahan sebuah pelanggan bagi operator lain, berarti pengurangan anggota pelanggan (churn) bagi operator lainnya.

Artinya, sekali lagi adalah bagaimana mensolusikan tantangan agar para user itu bergabung dalam suatu portal baru dan membuat mereka langgeng ke situ, fase the-real-face-community sangat-sangat membantu hal ini!

Satu lagi, bagi perusahaan-perusahaan pengelola atau pemilik TGGIP tersebut yang terdaftar dalam bursa saham, kunci pokoknya adalah rating trafik hit dan pageview mereka adalah penggerak naik-turunnya saham mereka! Sekali trafik hit dan pageview mereka turun dalam periode waktu tertentu, itu berarti bencana besar telah melanda perusahaan tersebut!

Lantas, mengapa kita tidak bisa (baca= berani)?

Kata pertama saya untuk tragedi peperangan di Palestina adalah prihatin.

Langkah yang bisa saya lakukan adalah hanya berdoa agar Palestina diberikan kesabaran, kebersatuan, dan kekeuatan untuk menghadapi gencarnya serangan Israel. Bantuan ala kadarnya, tidak layak untuk diceritakan, kecuali sebagai dorongan agar bantuan-bantuan itu mem-viral semakin menambah banyak bantuan.

Dari kacamata marketing, saya setuju dengan pendapat abah John Naisbitt dalam Mindset-nya, salah satu point yang saya ambil dari beliau adalah bahwa perang merupakan sebuah alasan untuk melakukan inovasi yang berkelanjutan. Keberadaan perang memacu individu, ikatan-ikatan individu, dan bangsa untuk berpikir dan berpikir menjadi lebih baik. Perang pulalah yang mendasari negara untuk mempertahankan keamanannya dengan senjata-senjata pertahanan tercanggih (hasil sebuah inovasi).

Dari sisi itu, Israel sebagai inovator senjata tercanggih dan AS (sekutu terdekatnya) sebagai penghasil senjata terbaru melakukan parade pamer dan uji senjata terbaik. Terlepas betapa kejam dan biadabnya aktivitas itu, namun itulah kenyataannya, setiap kali agresi Israel dilancarkan, pasti dibarengi dengan focus-shoot berita pada keberadaan senjata baru yang siap jual. Kita bersama mungkin sudah mahfum, bahwa setiap akhir atau awal tahun, anggaran belanja senjata pertahanan adalah mata anggaran yang selalu dianggarkan, dan… dengan jumlah yang sangat besar.

Keberadaan perang sebagai moment pemasaran adalah sangat tepat, karena ke-viral-annya sangat dahsyat, semua media baik tradisional, online, bahkan offline-activation meneruskan berita itu, berita perang dan… kesuksesan senjata perangnya. Media tradisional seperti radio, koran, majalah, dan TV memperoleh asupan berita yang sangat-sangat layak jual. Media online dipenuhi dengan online-news dan blog-blog yang mengecam Israel dengan perangnya dan… tentu saja itu terkait dengan senjata perangnya. Media offline-activation, banyak orang dan ormas yang berkomentar dan bersiap berbondong ke Palestina membantu perang. Kalau boleh di-tag-kan, aktivitas dan berita itu adalah perang, agres, Israel, dan… jangan lupa senjata terbarunya!

Bila tesis tersebut benar, bahwa perang Palestina adalah media pemasaran, maka saya berani menjamin bahwa keberadaan Palestina akan tetap dipertahankan dan tak akan dimusnahkan, karena memang negara Palestina (rakyat dan wilayahnya) adalah media pemasaran bagi senjata terbaru. Bukankah sektor ini merupakan bidang inovasi yang tak akan terhenti?

Usul pribadi saya bagi kesentausaan Palestina adalah segera mengambil jalur damai dengan Israel, hindari provokasi pihak-pihak (termasuk internal Palestina) yang dapat memicu pertempuran. Karena sedikit saja friksi yang timbul, Israel akan serta merta menjadikannya medan (baca: media) pemasaran.

Lantas kalau sudah demikian, kapan solusi sebenarnya terjadi?

Next Page »