Mengenali Calon Prospek
Calon prospek kurang lebih didefinisikan oleh publik yang akan didekati lebih lanjut sebagai prospek yang akan dijadikan target dalam rangkaian proses pembelian. Calon prospek tersebut biasanya berdasarkan segmentasi yang lebih luas, dapat berdasarkan umur, lokasi, pendapatan per bulan. Segmentasi umur berarti produk dikorelasikan dengan calon prospek yang memiliki umur tertentu, misal produk susu tulang disegmentasikan untuk calon proses berumur lebih dari 40 tahun. Segmentasi lokasi, bisa keseluruhan lokasi ataupun suatu kota atau area tertentu.
Nah, dalam new wave marketing ini, segmentasi menurut pak Hermawan, segmentasi lebih difokuskan kepada communitization. Proses communitization kurang lebih mengelompokkan calon prospek dalam kelompok-kelompok orang yang memiliki preferensi dan kepedulian yang sama tentang suatu hal. Pada bagian lain akan coba saya share terkait bagaimana menumbuhkan komunitas corporate-communication yang saling peduli.
Segmentasi adalah kacamata stategi pemasaran tradisional yang memang berasal dari kacamata produsen terkait dengan produk yang akan di-deliver ke pasar. Sedangkan, communitization masih menurut pendapat pak Hermawan berasal dari komunitas-komunitas yang tumbuh secara mandiri yang dapat difasilitasi untuk searah dengan kepentingan produsen. Dan… bila belum ada komunitas yang terkait dengan produsen, maka produsen dapat menciptakan komunitas tersebut.
Menurut saya, pada kasus produk yang dapat membaca nilai lifestyle yang dapat ditunjukkan kepada individu yang lain, maka keberadaan sebuah komunitas dapat dilakukan (to gather) dicari, dikumpulkan, dan dikelompokkan sesuai kepentingan produsen. Yang mana hasil proses tersebut dapat disesuaikan dengan marketing activation produsen.
Sebagai contoh, produsen sepeda motor dapat dengan lebih mudah melakukan gathering komunitas motor yang memang dapat terkait dengan nilai lifestyle ataupun perilaku pengguna motor. Maka, munculah komunitas motor Yamaha, komunitas motor Honda, dan komunitas motor lainnya yang sering terlihat kopdar di suatu lokasi tertentu. Produsen Yamaha dan Honda dapat memanfaatkan keberadaan komunitas tersebut untuk aktivitas sesuai kepentingan atau tujuan produsen Yamaha dan Honda. Maka, jadilah kunjungan sosial yang difasilitasi oleh produsen dan sebagainya.
Sebaliknya, pertanyaan akan muncul, bagaimana dengan produk yang tidak dapat memunculkan nilai lifestyle seara langsung, misalnya adalah pengguna sabun mandi atau pengguna obat kuat. Padahal mereka adalah orang yang terbiasa menggunakan suatu produk tertentu yang bisa melakukan sharing terhadap suatu produk atau masalah lain atau bahkan tentang produsen itu sendiri. Mereka juga adalah calon prospek.
Dalam perkembangannya, new [wave] marketing yang hanya mengandalkan prospek secara online saja akan berhadapan dengan Segmentasi tradisional pengguna online yang bisa jadi terlupakan dalam gelora new [wave] marketing. Maka, sudah selayaknya communitization tidak terjebak hanya pada dunia online atau internet saja.
Bagaimana menurut pendapat Anda tentang gelora Friendster dan Facebook dari kacamata produsen? Apakah mereka calon prospek produk Anda?

Ikatan Alumni SMK Telekomunikasi Malang » Blog Archive » Mengenali Calon Prospek responds:
Posted: December 2nd, 2008 at 9:19 am →
[...] Read original post at http://cakusma.com/?p=109 [...]
de la rosa responds:
Posted: January 29th, 2009 at 4:36 am →
Pak Cak Usma, ayo dong gabung juga ke komunitas pengguna motor Indonesia… http://www.dunia-motor.net
Menarik lho… sesuai dng blog Anda.
Cak Usma responds:
Posted: February 22nd, 2009 at 3:07 pm →
yap,
saya akan coba gabung