Tembaklah Kepalanya!
Judul tersebut terkesan provokatif dengan mengajak untuk menembak kepala. Tapi, tunggu lagi, kepala apa pula ini? Dalam artikel ini akan kita coba buka tentang kepala dan communitization.
Gambar diambil dari www.englishonline.org.cn
Communitization, sebagaimana sebuah proses pengamatan dan pengelompokkan suatu baruan manusia dengan beragam ciri khas menjadi kelompok-kelompok yang memiliki suatu ciri khas tertentu atau dalam hal ini adalah kepedulian terhadap anggotanya pada suatu tematik tertentu.
Komunitas pengguna motor atau kelompok arisan ibu-ibu setingkat RT adalah contoh kegiatan communization dengan kepedulian yang berbeda walaupun masing-masing kelompok tentunya memiliki suatu ciri yang dapat dihubungkan sampai pada ciri yang paling umum, misalkan mereka adalah anggota masyarakat di daerah Jakarta Selatan, karena bisa jadi kebetulan keduanya kumpul di depan Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, atau bisa dikelompokkan lebih kecil lagi, misal menjadi komunitas pengguna lapangan di depan TMP Kalibata.
Salah satu ciri dari beberapa ciri dari communitization adalah adanya opinion leader (sebuah term yang sangat penting untuk komunikasi word-of-mouth secara online atau biasa disebut sebagai viral marketing), yaitu individu-individu yang dapat mengarahkan kelompok tersebut ke aktivitas kelompok tersebut.
Sebagai contoh, kelompok motor tentunya punya ketua atau ‘kepala suku’ baik secara resmi terstruktur ataupun karena kultural (kebiasaan), kelompok arisan RT biasanya juga ada ketua arisan ataupun pengurus arisan. Nah, biasanya para ketua tersebut dan juga pengurusnya adalah bisa digolongkan sebagai opinion leader.
Dalam new [wave] marketing, dikarenakan lingkup gerak komunitas tersebut biasanya dipengaruhi oleh opinion leader, maka peran dan keberadaan opinion leader tersebut sebagai bidikan target pemasaran produk melalui komunitas menjadi sangat penting. Mereka itulah yang menjadi target utama untuk didekati, dikenali, dan dilakukan kegiatan pengaruh (persuasif) terhadap produk produsen. Maka, dikenalah sebuah slogan dalam new [wave] marketing, “Jadilah Sniper!”.
Keberadaan komunitas, opinion leader, dan proses sniping (penembak-jituan) tersebut yang dapat menyebabkan pola marketing baru yang memberikan impact besar dengan low budjet. Hal ini dibandingkan dengan pemasaran secara tradisional yang harus menyediakan kanal komunikasi yang mahal, seperti TV, koran, dan media tradisional lainnya. Karena biaya pemasaran tradisional tersebut biasanya lebih banyak digunakan untuk pay-attention dengan audiens yang belum tentu tepat.
Maka proses pay-attention yang mahal tersebut dalam new [wave] marketing, sebaiknya diarahkan untuk pelaksanaan pendekatan kepada komunitas, pengenalan kepada perilaku komunitas, pengenalan kepada siapa saja sebagai kepala atau opinion leader, dan bagaimana ‘mengambil hati’ para kepala tersebut untuk mengarahkan kepada konsumsi produk kita.
Maka menangkanlah sang opinion leader!
Tembaklah kepalanya!

Ikatan Alumni SMK Telekomunikasi Malang » Blog Archive » Tembaklah Kepalanya! responds:
Posted: December 3rd, 2008 at 9:38 am →
[...] Read original post at http://cakusma.com/?p=117 [...]