Perusahaan Era Lampau?

3C: Community, Connection, Content
Mengutip pendapat dari pak Bruce Friesen, bahwa komunitas secara praktis diterjemahkan sebagai kelompok yang terorganisir secara besar dalam tulisannya melakukan redefinisi B2C yang awalnya adalah Business to Consumer menjadi Pengembangan Komunitas. Pak Bruce menyatakan bahwa dalam dalam komunitas tersebut terdapat hubungan interpersonal anggota komunitasnya (connection) dan ide yang dishare (content).
Komunitas adalah bukan hal baru dan sudah sejak lama ada, mulai dari komunikasi antar individu yang sering ketemu seperti arisan ibu-ibu, berikutnya ada perkembangan interaksi dengan menggunakan media radio dan televise, serta berikutnya adalah terdapat media internet yang menghilangkan sekat-sekat komunitas tradisional. Melalui internet lah seorang individu dapat secara bebas mengungkapkan ide-idenya tanpa harus dibatasi oleh klasifikasi demografi ataupun geografi. Penerima ide individu tersebut tidak harus tetangga sebelah rumahnya, bahkan bisa individu lain yang tidak dikenalnya jauh darinya.
Dalam kacamata pemasaran, komunitas online merupakan sebuah target yang sangat bagus dalam penyebaran informasi ataupun persuasi dalam rangka mempengaruhi individu yang lain. Banyak produsen ternama mengundang para Blogger dalam acara launching produk baru yang ditujukan untuk mendukung penyebaran informasi melalui blog.
Langkah tersebut adalah sangat tepat mengingat Blogger melalui blognya pada umumnya memiliki content yang dinikmati oleh jaringan komunikasi yang biasa menikmati ide dari sang Blogger. Walaupun kita tahu bersama, bisa jadi sang Blogger belum tentu membeli produk tersebut, namun langkah tersebut merupakan penyebaran informasi produk (product knowledge) kepada calon prospek melalui media Blog dengan khas bahasa manusia (bukan bahasa marketing-communication tradisional), sebuah bahasa yang biasanya lebih mudah diterima oleh individu lain.
Media internet social networking seperti Friendster, Facebook, ataupun FlexiLand adalah media-media yang menjembatani keterhubungan antar individu pengguna internet untuk bergabung dalam jaringan komunitas sehingga tercipta crowd dalam rangka penyebaran informasi secara cepat dan luas. Menjadikan keterhubungan antar individu menjadi lebih horizontal, banyak kita tahu bahwa Obama memiliki banyak teman yang bisa jadi level sosialnya jauh dari seorang presiden Amerika. Bisa jadi dalam keterhubungan corporate-community, hubungan keduanya akan lebih cair dan lebih akrab, sebuah modal utama dalam membangun viral-marketing yang berdampak positif bagi produsen.
Sebelum tahun 2000-an, perusahaan tradisional merasa tidak nyaman dengan keberadaan sebuah komunitas, karena biasanya dalam benak senior-leader perusahaan tersebut, sebuah komunitas biasanya akan menjadi beban-tambahan bagi perusahaan tersebut. Mengharuskan perusahaan menghadapi komplain secara kelompok ataupun keharusan selalu memfasilitasi komunitas tersebut dengan pertimbangan kerugian lainnya.
Dengan demikian benarlah pendapat Ibu Debbie Weil dalam ‘Corporate Blogging’-nya yang menyatakan, bahwa pada saat ini menemukan dan memahami kebutuhan komunitas untuk dikolaborasikan dengan kepentingan produsen/ perusahaan adalah sebuah keharusan itu sendiri, atau kalau tidak perusahaan tersebut akan dianggap seperti perusahaan di era lampau!
Ikatan Alumni SMK Telekomunikasi Malang » Blog Archive » Perusahaan Era Lampau? responds:
Posted: December 4th, 2008 at 8:38 am →
[...] Read original post at http://cakusma.com/?p=126 [...]