Perang Palestina, Media Pemasaran?
Kata pertama saya untuk tragedi peperangan di Palestina adalah prihatin.
Langkah yang bisa saya lakukan adalah hanya berdoa agar Palestina diberikan kesabaran, kebersatuan, dan kekeuatan untuk menghadapi gencarnya serangan Israel. Bantuan ala kadarnya, tidak layak untuk diceritakan, kecuali sebagai dorongan agar bantuan-bantuan itu mem-viral semakin menambah banyak bantuan.
Dari kacamata marketing, saya setuju dengan pendapat abah John Naisbitt dalam Mindset-nya, salah satu point yang saya ambil dari beliau adalah bahwa perang merupakan sebuah alasan untuk melakukan inovasi yang berkelanjutan. Keberadaan perang memacu individu, ikatan-ikatan individu, dan bangsa untuk berpikir dan berpikir menjadi lebih baik. Perang pulalah yang mendasari negara untuk mempertahankan keamanannya dengan senjata-senjata pertahanan tercanggih (hasil sebuah inovasi).
Dari sisi itu, Israel sebagai inovator senjata tercanggih dan AS (sekutu terdekatnya) sebagai penghasil senjata terbaru melakukan parade pamer dan uji senjata terbaik. Terlepas betapa kejam dan biadabnya aktivitas itu, namun itulah kenyataannya, setiap kali agresi Israel dilancarkan, pasti dibarengi dengan focus-shoot berita pada keberadaan senjata baru yang siap jual. Kita bersama mungkin sudah mahfum, bahwa setiap akhir atau awal tahun, anggaran belanja senjata pertahanan adalah mata anggaran yang selalu dianggarkan, dan… dengan jumlah yang sangat besar.
Keberadaan perang sebagai moment pemasaran adalah sangat tepat, karena ke-viral-annya sangat dahsyat, semua media baik tradisional, online, bahkan offline-activation meneruskan berita itu, berita perang dan… kesuksesan senjata perangnya. Media tradisional seperti radio, koran, majalah, dan TV memperoleh asupan berita yang sangat-sangat layak jual. Media online dipenuhi dengan online-news dan blog-blog yang mengecam Israel dengan perangnya dan… tentu saja itu terkait dengan senjata perangnya. Media offline-activation, banyak orang dan ormas yang berkomentar dan bersiap berbondong ke Palestina membantu perang. Kalau boleh di-tag-kan, aktivitas dan berita itu adalah perang, agres, Israel, dan… jangan lupa senjata terbarunya!
Bila tesis tersebut benar, bahwa perang Palestina adalah media pemasaran, maka saya berani menjamin bahwa keberadaan Palestina akan tetap dipertahankan dan tak akan dimusnahkan, karena memang negara Palestina (rakyat dan wilayahnya) adalah media pemasaran bagi senjata terbaru. Bukankah sektor ini merupakan bidang inovasi yang tak akan terhenti?
Usul pribadi saya bagi kesentausaan Palestina adalah segera mengambil jalur damai dengan Israel, hindari provokasi pihak-pihak (termasuk internal Palestina) yang dapat memicu pertempuran. Karena sedikit saja friksi yang timbul, Israel akan serta merta menjadikannya medan (baca: media) pemasaran.
Lantas kalau sudah demikian, kapan solusi sebenarnya terjadi?
pakde responds:
Posted: January 22nd, 2009 at 5:11 am →
Bisa jadi target pemasaran berhasil, baru di temukan solusi, karena tak jarang solusi muncul di akhir sebuah episode kehidupan.