DNA Budaya, Lambat Berubah

Posted February 19th, 2009 by Cak Usma

Saya tertarik dengan sejarah Jawa, khususnya karena para pemimpin bangsa Indonesia ini sampai dengan saat ini, sebagian besar adalah dari Jawa. Simpel yah. Bisa jadi memang karena para pemilihnya di setiap pemilu sebagian besar adalah penduduk Jawa. Bisa jadi karena faktor lokasi pemerintahannya yang ada di Jawa, jadi setidaknya sorakan ‘Save The City’ akan terdengar (khas suporter pertandingan tuan rumah yang akan kalah).

Saya mengumpulkan beberapa buku, mulai dari Babad Tanah Jawi (dari beberapa pengarang buku), Kisah Raja-Raja Jawa, Strategi & Skenario Ken Arok, Sejarah-Fiksi Gajah Mada, dan terakhir ada buku karya Thomas Stamford Raffles: “The History of Java”. Buku ini sudah ada versi e-booknya yang disediakan oleh google, tapi karena keterbatasan bahasa Inggris saya untuk sebuah tulisan historis khas baheula itu, saya kesulitan mencerna dan memperoleh bukunya sekitar dua bulan yang lalu versi bahasa Indonesia.

Buku Raffles itu sangat-sangat lengkap dan detail, hingga di halaman-halaman awal mirip laporan BPS (Badan Pusat Statistik), namun di dalamnya memberi porsi yang lumayan besar untuk tulisan tentang kerajaan Jawa. Raffles mengklaim tulisan dia tersebut yang paling lengkap di zamannya.

Ketertarikan saya untuk membaca sejarah Jawa, salah satu alasannya adalah bahwa Jawalah penyebar DNA budaya ke daerah-daerah lain (baca: pulau lain), walaupun menurut saya tidak seluruh pulau terkooptasi budayanya oleh para imigran Jawa.

Satu lagi yang simpel dan lucu adalah: orang-orang tua saya di kampung atau mungkin di tempat Anda sering berujar, “Oh dasar wong [nama kota/ daerah], yo ngono iku!” artinya “Oh dasar orang [nama kota/ daerah], ya begitu itu!”. Begitu itu berarti menyatakan budaya yang terkait dengan nama kota/ daerah dan populer dikenal oleh masyarakat umum.

Ujaran itu selalu terngiang di telinga saya, karena nyatanya perubahaan DNA budaya itu tidak berjalan secara revolusioner, namun berjalan secara evolusioner yang sangat lambat.

Artinya, dengan membaca buku-buku sejarah yang mungkin paling lama 1,5 abad yang lalu, kita masih bisa membaca budaya seseorang berdasarkan kota/ daerah asalnya itu. Menurut saya, ngetahui budaya seseorang dalam perspektif penerusan berita ataupun penciptaan community-trust adalah sangat penting.

Yang menjadi pertanyaan: kota/daerah asal sewaktu kelahiran atau tumbuh dewasa seseorang?

Saya belum memperoleh jawaban tentang hal ini, tapi perkiraan saya adalah: kota dia tumbuh dewasa seseorang tersebut.

Bagaimana menurut Anda?


One Response to: “DNA Budaya, Lambat Berubah”

  1. Ikatan Alumni SMK Telekomunikasi Malang » Blog Archive » DNA Budaya, Lambat Berubah responds:
    Posted: February 19th, 2009 at 2:06 pm

    [...] Read original post at http://cakusma.com/?p=184 [...]


Post a Comment

Enter Your Details:


You may write the following basic XHTML Strict in your comments:
<a href="" title=""></a> · <acronym title=""></acronym> · <abbr title=""></abbr>
<blockquote cite=""></blockquote> · <code></code> · <strong></strong> · <em></em>

  • Including a link in your comments will require moderator approval. No Spam please.
  • If you’re a first-time commenter, your reply will be held for moderation. Sorry.
  • Please do not force me to have to edit or remove your comments. No Spam please.
  • Your mature and responsible replies are greatly appreciated by all. Thank you.
Enter Your Comments:


Note: This is the end of the usable page. The image(s) below are preloaded for performance only.