Syair Negeriku
Saya adalah salah satu pengagum tulisan Emha dan penikmat syair-syair musik Kyai Kanjengnya, sebuah grup yang mirip kasidah modern dengan kombinasi beragam alat, sehingga pendengarnya akan manggut-manggut dan terbelalak setelah memahami makna syairnya.
-cut-
Satu hal lagi, saya sering mendengungkan shalawat nabi ketika meninabobokkan putra saya, ketika masih berumur kurang dari tiga tahun, dan entah mengapa dengungan saya tadi membuatnya mudah tertidur dan tidak rewel. Saya coba cari mengapa, ternyata memang para guru dan ulama terdahulu menganjurkan hal itu.
Sekitar dua tahunan yang lalu, saya tertarik dengan pemaknaan lagu ilir-ilir, dan secara tidak sengaja saya dengar di sebuah radio dalam perjalanan saya ke kantor sebuah alunan musik yang mudah saya kenali. Yap, Emha sedang nembang ilir-ilir wladalah tapi kok disambung shalawatan, batin saya, bisa jadi ini modal saya untuk meninabobokkan calon jabang bayi saya, anak kedua.
Mau tahu syair dan pemaknaan lagu ilir-ilir oleh Emha yang menurutnya bersumber dari literatur kuno Sunan Kalijaga? Saya tidak terlalu peduli dengan sumbernya, karena seorang Emha bagi saya tidak perlu diragukan kebenarannya. Dan sepertinya itu sebuah rangkaian komplit dari pemaknaan saya terhadap tembang ilir-ilir yang sepotong-potong. Tumbu oleh tutup!
Syair tembang Ilir-Ilir:
Ilir-Ilir, lir-ilir, tanduri wus sumilir
tak ijo royo-royo, tak sengguh temanten anyar
bocah angon, bocah angon, penekno blimbing kuwi
lunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dodot ira.
Dodot ira, dodot ira, kumitir bedhah ing pinggir
dondomono, jlumatono kanggo seba mengko sore
mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane
ya, suraka surak hiya.
Pemaknaan Emha yang bersumber dari Sunan Kalijaga:
Wahai semuanya, bangunlah, bangunlah (nglilir), semuanya sudah berkembang dan harus dikembangkan. Mekar bersemi menghasilkan, namun ternyata belum mencapai kesejahteraan yang membahagiaan dan mensentosakan. Wahai penggembala umat, para pemimpin bangsa, ambilkan sari-sari nilai keTuhanan dan gunakan untuk memimpin, walau banyak aral melintang dan hambatan yang licin dan memelesetkan, dalam rangka membangkitkan lagi kehormatan (dodot=pakaian=kehormatan) bangsa.
Kehormatan bangsa kita telah sobek dan nampak di depan mata, wahai pemimpin perbaikilah untuk bergaul dalam kancah dunia, mumpung masih ada waktu dan kesempatan. Dan bersoraklah menyambut kemenangan, kembalinya kehormatan.
-cut-
Setelah anak saya yang kedua lahir, NIKA (Naila), saya mulai terapkan syair-syair itu sebagai kidung pengantar tidurnya. Sekarang dia sudah hampir dua tahun, setiap mau tidur, ketika saya ada, pasti tangan saya ditarik ke tempat tidur sembari berujar, ‘Yah, lil-ilil Yah…’. Saya paham maksudnya, seperti malam ini, dia ingin melingkar dalam pelukan saya sambil saya dengungkan tembang Emha tadi mengiringi tidurnya.
-cut-
Pemaknaan Emha tersebut sangat tepat dengan kondisi bangsa kita, bangsa Indonesia, yang memiliki kehormatan sangat rendah dalam pergaulan antar bangsa. Bahkan kita sering diremehkan tetangga negara kita, yang bisa jadi 30 tahun lalu, mereka banyak berguru dan bersekolah di negeri kita. Ada apa ini?
Syair yang berisi seruan untuk bangkit kembali mencapai kehormatan bangsa kembali harus didengungkan, tidak harus berlebihan, namun masing-masing kita membawa semangat kebersamaan untuk membalikkan kembali kehormatan bangsa.
Negeri kita adalah potongan surga, tanah luas nan subur hingga apapun yang ditanam tumbuh, lautan luas penuh ikan berdaya jual tinggi, orang-orang kita tidak kalah pintar, budaya kita bernilai cita rasa tinggi, masyarakat penuh penghormatan dan tepa slira (walau sekarang mulai terlihat banyak individualism-kelompok). Mengapa?
Ketika dahulu, kita banyak ketinggalan dengan penjajah-ekonomi dari segi pengalaman, kurangnya kekayaan intelektual, proses peralihan teknologi yang lama, seharusnya tidak untuk saat ini!
Kata orang, internet adalah mbah-nya dari segala mbah perpustakaan, yang dengannya proses pengembangan keilmuan dan dengannya peralihan teknologi pengkaya intelektual seharusnya tidak jauh tertinggal.
Kita perlu cah angon (baca: pemimpin) yang memiliki modal relijius yang kuat untuk membangkitkan kehormatan kita!
Bagaimana pendapat Anda?
Ikatan Alumni SMK Telekomunikasi Malang » Blog Archive » Syair Negeriku responds:
Posted: February 22nd, 2009 at 4:02 pm →
[...] Read original post at http://cakusma.com/?p=194 [...]
annosmile responds:
Posted: March 1st, 2009 at 1:19 pm →
saya seh setuju aja